Sintang, Kalbar – Praktek Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) yang terdapat disepanjang aliran sungai Kapuas dan melawi hingga saat ini masih marak. Tak
tanggung-tanggung, Ratusan mesin raksasa pengumpul logam Mulia tersebut membentang disepanjang sungai berbaris rapi.
Pemandangan tersebut disaksikan langsung sejumlah awak media yang turun langsung ke lokasi saat melakukan perjalanan menelusuri sepanjang aliran Sungai Kapuas di Kabupaten Sintang menggunakan Speedboad belum lama ini.
Pertambangan Emas tanpa Izin tersebut sepertinya sudah biasa dilakukan dan beroperasional terang-terangan di tengah
sungai meskipun sebenarnya praktek yang dilakukan para pekerja PETI tersebut melanggar hukum. Namun sepertinya tidak ada rasa takut dengan pelanggaran yang
dilakukan.
Seperti yang terdapat di diwilayah jalur Sungai Kapuas di beberapa Desa / kecamatan di Kabupaten Sintang, tampak ratusan mesin Raksasa sedang beroperasional dengan kepulan Asap hitam membumbung tinggi membentang panjang dan berbaris rapi ditengah sungai yang tentunya menggangu arus lalu lintas Sungai.
Salah satu warga yang enggan disebutkan namanya, saat sedang
beraktivitas dibantaran sungai mengaku bahwa praktek PETI disepanjang jalur sungai tersebut sudah berlangsung lama dan tidak pernah ada penertiban.
“Kalau itu sih, jangan ditanya lah. Tu sudah berlangsung lama, mana ada yang berani menindaknya, kami warga sekitar disini tak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa melihat, “ungkap warga tersebut.
la juga menuturkan bahwa pemandangan lanting tambang emas yang berjejer rapi
membentang di sungai Kapuas tersebut tidak hanya terdapat di wilayah di Desanya, juga terdapat disejumlah titik wilayah lainnya.
“Bukan hanya di sini saja mas, hampir sepanjang aliran diwilayah sungai lainnya juga banyak seperti ini, tak terhitung lagi, kalau perkiraan ada sekitar ratusan set mesin yang masih beroperasional diwilayah ini,” ungkapnya.
“Patroli dari polairud Sintang bukan tidak pernah melintas dijalur sungai ini. Namun, kalau saya melihat mereka hanya lewat sepintas tanpa ada penindakan, ini menunjukkan bahwa ada indikasi pembiaran, dan menjadi sebuah pertanyaan, ada apa dibalik praktek illegal
ini, makanya para pekerja tidak merasa ketakutan lagi, ya…. mas-mas sendiri mungkin sudah paham sendiri lah,” tuturnya.
“Kalau mau lihat kebenarannya, silahkan saja, adek-adek terus menelusuri tuk melihat secara langsung dari Speed boat, maka kalian akan melihat sendiri begitu banyaknya lanting-lanting berjejer rapi membentang panjang hampir menutupi jalur lalu lintas air,” pungkasnya.
Pekerja Tambang Emas Tanpa Izin ( PETI ) marak di Sintang di antara Jembatan Kapuas Sintang sampai Sungai Ketungau Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat.
Sementara sudah jelas instruksi Kapolri Jenderal Listyo Singit telah mengintruksikan kepada jajarannya agar menindak para pelaku kejahatan salah satunya penyakit masyarakat dan tambang-tambang Illegal di seluruh Indonesia, namun Perintah Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo seolah angin lalu dan dipandang sebelah mata oleh Polres Sintang
Fakta di lapangan 19 November 2022, sampai 25 Desember 2022 dari Pantauan Media dan tim yang memantau langsung ke lapangan, terdapat sekitar puluhan Set mesin Jek bertenaga Fuso merusak lingkungan habitat di Sungai Kapuas dan Sungai Ketungau, hingga mencemari air sungai akibat yang ditimbulkan dari zat beracun Merkuri. Ketika masuk ke dalam tubuh, merkuri dapat menimbulkan gangguan pada berbagai sistem tubuh, seperti sistem saraf, sistem pencernaan, dan sistem kekebalan tubuh. Selain itu, merkuri juga dapat menimbulkan gangguan pada organ tubuh, seperti paru-paru, ginjal, mata, dan kulit.
Menurut pengakuan Pekerja yang enggan di sebutkan namanya mengatakan, “kami baru bekerja pak, kalo untuk setoran ada pak Satu juta Lima ratus Ribu per set ke oknum-oknum,” katanya saat ditemui di lapangan beberapa waktu lalu.
Sementara sampai berita ini di publikasikan belum ada tanggapan dari pihak berwajib dari Polres Sintang. Kapolres Sintang melalui Kasat Reskrim Polres Sintang AKP Idris Bakara saat di hubungi melalui WhatsApp belum ada tanggapannya.
Sumber: Tim Lapangan
Editor: Libertus